Benda Langit Mini yang Menumbuk Planet Gergasi Halama「Live entertainment」n 2

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Roulette!,Kasino baccarat,Game company url

DLive entertainmentapatkan inLive entertainmentFormasi, inspirasi dan insight di email kamLive entertainmentu.

Daftarkan email

Mari gabungkan batasan ini dengan kilatan cahaya tumbukan September 2021 yang merupakan terterang kedua sejak 1994, serta tidak terdeteksinya bintik gelap bahkan meski pengamatan hanya berselang sejam pasca tumbukan. Maka, tumbukan kali ini melibatkan asteroid atau komet yang bergaris tengah ~100 meter.

Untunglah tumbukan ini terjadi di gergasi bernama Jupiter, sehingga tak berdampak apapun bagi kita.

Tinggi di atmosfer, kolom tumbukan akan melebar horizontal sembari menyebarkan debu–debu komet atau asteroid ke atmosfer atas Jupiter. Inilah yang tampak dari Bumi sebagai bintik gelap.

Sebaliknya, kilatan cahaya tumbukan September 2021 mempunyai magnitudo semu +12 atau lebih terang lagi. Sebab, salah satu saksi mata menyaksikannya secara langsung menggunakan teleskop binokular 300 mm. Maka, terjadi peningkatan dramatis hingga 18 magnitudo, fenomena umum dalam peristiwa tumbukan benda langit.

Asteroid atau komet seukuran tersebut yang bergentayangan di orbit Jupiter mustahil diamati dengan teknologi masa kini. Di atas kertas, ia memiliki magnitudo (tingkat terang) semu +30. Magnitudo tersebut jauh di atas batas kemampuan teleskop–teleskop raksasa terkini di Bumi.

Oleh karena itu, dalam perspektif keplanetan, Jupiter merupakan perisai kosmik yang meredam masuknya komet dan asteroid liar ke orbit planet–planet dalam, termasuk Bumi. Meskipun perlindungan ini tidak bergaransi 100 persen.

Baca juga: Fenomena Langit September 2021: 2 Puncak Hujan Meteor hingga Oposisi Neptunus

Energi ini sangat dahsyat, setara dengan 42.500 butir bom nuklir Nagasaki yang diledakkan serempak pada satu titik. Apabila tumbukan berenergi sebesar itu terjadi di Bumi, akan terbentuk kawah tumbukan bergaris tengah 4 km. Semburan material produk tumbukannya juga akan berdampak pada terjadinya kerusakan lingkungan dalam skala regional.

Bintik–bintik gelap terlihat jelas pasca tumbukan komet Shoemaker Levy 9 di 1994. Juga teramati dalam tumbukan Desember 1690 (tumbukan Cassini). Tumbukan Juli 2009 (tumbukan Wesley) menyajikan batasan minimal bagi dimensi asteroid atau komet penumbuk Jupiter yang bisa meninggalkan jejak bintik gelap yang dapat teramati dari Bumi, yakni jika garis tengahnya minimal 200 hingga 500 meter, apabila dianggap berbentuk bola.

Asteroid atau komet umumnya melaju 60 km per detik atau 216.000 km per jam saat hendak menumbuk Jupiter. Bila dianggap penumbuknya merupakan adalah asteroid berkomposisi kondritik (massa jenis 3,7 ton per meter kubik), maka massanya ~2 juta ton dan energi tumbukannya minimal 850 megaton TNT.

Sebagai planet terbesar dalam tata surya kita, Jupiter menyandang peran sebagai penyedot kosmik oleh massanya yang sangat besar dan kedudukannya. Gravitasi sang gergasi mampu memaksa mayoritas asteroid berkerumun relatif tertib dalam Sabuk Utama. Ia juga mampu memaksa komet–komet periodik dari keluarga keluarga Jupiter dan Halley mematuhi koridor yang menghindarkannya dari potensi benturan dengan planet–planet dalam.